
DARI TUATUNU UNTUK INDONESIA: KALAPAS FEBIE DWI HARTANTO SULAP LAHAN TIDUR JADI LUMBUNG PADI GOGO, WAKIL WALI KOTA & FORKOPIMDA JADI SAKSI SEJARAH
PANGKALPINANG, http://Borgolkriminal.com. SEJARAH BARU DICATAT.
Lapas Kelas IIA Pangkalpinang di bawah komando Kalapas Febie Dwi Hartanto membuktikan bahwa tembok penjara bukan akhir segalanya. Dari kawasan Kawasan Pangan Terpadu Lapas, Kelurahan Tuatunu Indah, lahir harapan baru untuk kedaulatan pangan Bangka Belitung.
Besok, Selasa (07/10/2026) pukul 07.30 WIB, Lapas Kelas IIA Pangkalpinang secara resmi akan menggelar hajat besar: Penanaman Perdana Padi Gogo dan Penandatanganan PKS Program Kelurahan Binaan.
Acara ini bukan kaleng-kaleng. Wakil Wali Kota Pangkalpinang, jajaran Forkopimda, Camat, Lurah Tuatunu Indah, serta stakeholder terkait dipastikan hadir langsung menjadi saksi sejarah transformasi pembinaan di Lapas.
BEDA DARI YANG LAIN: BUKAN CEREMONIAL, TAPI RESTORASI MARTABAT!
Kalapas Febie Dwi Hartanto menegaskan, ini bukan proyek pencitraan.
“Selama ini orang melihat Lapas hanya sebagai tempat menghukum. Hari ini kita buktikan Lapas adalah tempat memanusiakan manusia. Kita sulap lahan tidur di Tuatunu menjadi sentra produktif. Kita ajarkan WBP cara bertani yang benar, agar saat mereka bebas, mereka punya skill, punya martabat, dan tidak kembali menjadi beban masyarakat,” tegas Febie.
Padi Gogo menjadi senjata utamanya. Padi darat yang tangguh, tahan kekeringan, dan sangat cocok dengan kontur tanah Bangka. Jika berhasil, Tuatunu Indah akan menjadi pilot project lumbung pangan berbasis Lapas pertama di Babel.
PKS KELURAHAN BINAAN: JEMBATAN EMAS WBP KEMBALI KE MASYARAKAT
Poin paling krusial adalah PKS Kelurahan Binaan. Lewat PKS ini, Lapas tidak melepas WBP begitu saja. Pemerintah Kelurahan Tuatunu Indah akan menjadi bapak asuh yang menerima, membina, dan memberdayakan mantan WBP yang sudah memiliki keahlian pertanian.
Ini adalah konsep Restorative Justice yang sesungguhnya. Warga binaan diberdayakan, masyarakat dapat manfaat ketahanan pangan, pemerintah daerah terbantu programnya.
Langkah berani Febie Dwi Hartanto ini mendapat apresiasi tinggi. Di saat banyak Lapas hanya sibuk dengan masalah overkapasitas, Lapas Pangkalpinang justru sibuk memikirkan cara menyumbang beras untuk Indonesia.
Besok, dari Tuatunu, kita akan melihat bahwa harapan bisa tumbuh di mana saja, bahkan di balik jeruji besi sekalipun.
(Redaksi borgolkriminal)
Tinggalkan Balasan