
Kuota Solar Subsidi Bangka Dibobol SPBU Jakarta: Misteri Truk “Sultan Muda” yang ‘Teleportasi’ Ribuan Kilometer
Sistem pengawasan kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi milik PT Pertamina Patra Niaga kembali bocor dan menyisakan jalinan kejanggalan.
Sebuah truk dump bernomor polisi BN 8295 QY yang secara fisik terparkir di Pangkalpinang, Bangka Belitung, mendadak tercatat menyedot kuota Solar subsidi di SPBU 3413806 Jakarta Timur pada Jumat subuh (21/8/2026).
Skandal kebocoran digital ini terkuak ketika pemilik truk mendapati kuota harian BBM subsidi kendaraannya habis tak tersisa sebelum sempat mengantre di SPBU lokal.
Berdasarkan data sistem MyPertamina yang tercatat pada monitor petugas, truk Mitsubishi Colt Diesel FE 74 HD bernomor registrasi BN 8295 QY tersebut melakukan transaksi sebesar 73,31 liter Solar pada pukul 04.54 WIB di SPBU 3413806, Jakarta. Transaksi tersebut langsung menghabiskan kuota maksimal harian kendaraan (60,00 L) hingga menyisakan saldo kuota 0,00 L.
Padahal, kendaraan jenis truk barang berwarna kombinasi biru-kuning dengan tulisan “Sultan Muda” tersebut berada di wilayah hukum Bangka Belitung, terpisah jarak ribuan kilometer dan lautan dari Jakarta.
”Mobil saya ada di Pangkalpinang, tapi kok bisa tercatat diisi di SPBU kalian?” ujar pemilik kendaraan saat mengonfirmasi pengelola SPBU di Jakarta melalui pesan singkat.
Pihak pengelola SPBU Jakarta Timur memberikan jawaban singkat melalui pesan tertulis: “Ok nanti dicek dulu ya.”
Kejadian ini membongkar celah fatal dalam verifikasi fisik di lapangan.
Sistem kode QR (barcode) MyPertamina yang diluncurkan untuk membatasi penyelewengan BBM bersubsidi nyatanya rentan diduplikasi atau dimanipulasi oleh oknum tak bertanggung jawab.
Penggunaan QR Code tanpa verifikasi visual plat nomor kendaraan yang cocok di dispenser SPBU.
Pemilik asli kehilangan hak atas BBM bersubsidi akibat kuotanya ‘dicuri’ oleh kendaraan fantom di lokasi lain.
Kebocoran kuota ke pihak tak berhak memicu kelangkaan Solar subsidi di daerah asal kendaraan (Bangka Belitung).
Investigasi mendalam diperlukan untuk membongkar apakah terdapat keterlibatan oknum operator SPBU yang secara sengaja “menembak” QR code duplikat tanpa melakukan pencocokan fisik fisik kendaraan di area pompa BBM.
Skandal ini melampaui sekadar kendala teknis aplikasi; ini adalah indikasi lemahnya tata kelola pendistribusian energi bersubsidi yang dibiayai uang rakyat. Jika praktik pengisian BBM bersubsidi lintas pulau tanpa verifikasi fisik ini dibiarkan tanpa sanksi tegas, digitalisasi BBM subsidi Pertamina tak lebih dari sekadar formalitas tanpa taji***Tim Investigasi Macanputih/TimRajekuwek/TimRajebelis/Tim Rajemawang/Tim IMC
Tinggalkan Balasan